by

Ida Bagus Oka Petani Sawit “Bermental Baja” Tak Kenal Kata Menyerah

-Pasangkayu-23 views

Wartadedikasi.com, Pasangkayu — Siang itu kami singgah di salah satu rumah di desa polando jaya, lalundu. Nuansa adat Bali terasa begitu kental saat kami masuk di halaman yang sangat luas. Di depan teras rumah, seorang pria bali sudah menunggu dan menyambut kami di dengan senyum ramahnya.

Tak lama, sajian ala kebun berupa buah manggis dan durian disajikan. Kami langsung sigap menyantap sambil mendengarkan cerita pria ini.

Ida Bagus Oka namanya, pria yang sekarang berprofesi menjadi petani sawit ini mulai bercerita tentang hidupnya.

Dari kecil kehidupan Oka sangat penuh dengan dilema. Oka yang sudah tidak punya orang tua bergantung hidup dari belas kasihan orang lain. Bekerja sebagai buruh bangunan pun pernah ia lalui untuk menyambung hidup.

Sebuah harapan besar datang kepada Oka ketika ditawari untuk mengikuti program Transmigrasi yang tengah dicanangkan pemerintah ketika itu.

Tanpa ambil pusing, ia pun berangkat mengikuti program tersebut.

“Saya pikir saya harus bertahan hidup, harus mental batu”, katanya

Tahun 1993 tepatnya disaat usianya menginjak 27 tahun, Oka dan keluarganya memutuskan untuk pindah dari Denpasar, Bali ke Lalundu, Sulawesi.

Dari Bali, ia berangkat bersama dengan 65 kepala keluarga (kk) lain ke Sulawesi dengan harapan akan sukses. Menempuh perjalanan selama 3 – 4 hari, ia sampai di pelabuhan Kayu Maloa, Pasangkayu.

Dari sana ia di jemput oleh pihak transmigrasi dan diantarkan ke daerah Lalundu dan menginap 3 malam sebelum akhirnya dibagikan rumah dan 2 ha tanah untuk digarap menjadi pertanian.

“Pertama kali kami tanam padi pak, tapi selalu gagal karena air”, tutur Oka.

Ia berkata bahwa dulu pertama kali masuk ke daerah ini semua masih air. Jika banjir bisa setinggi atap rumah dan kami selalu mengungsi ke gunung.

Bahkan ketika menginjak tahun ke 5 di perantauan lebih dari setengah kk angkatannya yang memilih untuk mundur dan pulang.

Ia memilih bertahan dan mulai mencoba jenis tanaman lain seperti coklat namun hasilnya tidak jauh berbeda dengan padi.

Meskipun begitu hal itu tidak mematahkan asa dari pria kelahiran 1965 ini, Ia yakin kondisi daerah akan berubah dan tidak mungkin seperti ini terus.

Mulai mengenal sawit

Diawal tahun 1997, Oka sempat menjadi karyawan harian lepas PT Mamuang, salah satu anak usaha Astra Agro. Dari situ ia mengenal kelapa sawit dan dapat memenuhi kebutuhan logistik keluarganya.

“Dulu cari beras susah, beruntung dikasih sama perusahaan”, katanya

Ia menambahkan bahwa kala itu belum ada program kemitraan dari perusahaan, jadi kami bekerja saja.

Barulah di tahun 2006 ada penawaran program Income Generating Activity (IGA) kelapa sawit dari perusahaan, namun masyarakat masih belum yakin sepenuhnya dengan program ini.

” Ada yang bilang nanti surat tanah kita digadai perusahaan, ada yang bilang nanti tanah kita diambil”, ujarnya.

Ia pun tidak langsung mengiyakan tawaran perusahaan dan menanyakan kepada kerabatnya di perantauan lain bagaimana sistem IGA tersebut.

Setelah paham betul proses IGA, barulah ia berani mendaftarkan program IGA. Bersama dengan 25 orang petani, mereka membentuk kelompok tani Lalundu 3.

Alhasil setelah 4 tahun mulai menanam sawit, kehidupan keluarganya mulai berubah. Dari dulunya menjadi karyawan harian, dia beralih menjadi petani kelapa sawit.

Mental baja berbuah hasil

Pria 4 anak ini pun tersenyum bangga ketika bercerita tentang kondisinya sekarang. Anak – anaknya terbilang sukses dan bisa menduduki bangku kuliah.

“Semua karena sawit”, katanya

Yang lebih menarik, rumah trans dari kayu pun masih ia pertahankan meskipun sudah membuat bangunan permanen dari beton. Alasannya agar kita selalu ingat asal kita.

“Itu atap seng dari jaman saya trans pertama kali, belum keropos sekalipun”, kata Oka tersenyum. (**/ks/red)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *